Timnas Indonesia Kembali Menelan “Pil Pahit”
Untuk kesekian kalinya, timnas sepakbola Indonesia harus menelan “pil pahit” kekalahan dengan timnas negara tetangga, yaitu Myanmar. Dengan hasil tersebut, Indonesia harus puas dengan menduduki peringkat ke 2 grup A turnamen Grand Royall Challenge ’08 usai dikalahkan tuan rumah Myanmar 1-2, Sabtu (15/11) di Stadion Thuwunna Youth Training Center,Yangon.
Menyoroti dunia persepakbolaan Indonesia saat ini memang sungguh mengenaskan. Disamping prestasi timnas yang masih belum memuaskan para pendukungnya, ternyata permasalahan lain juga melanda tubuh PSSI.
Beberapa permasalahan yang saat ini tengah dihadapi oleh PSSI antara lain kasus-kasus indisipliner para pemain sepakbola di Indonesia dan deadline dari FIFA untuk segera menyelesaikan anggaran dasar barunya hingga 24 Desember 2008.
Menyoroti permasalahan tindakan indisipliner beberapa pemain di Indonesia, nampaknya PSSI harus berjuang keras melalui KOMDIS PSSI untuk menjaga citra persepakbolaan Indonesia. Para pelanggar harus dihukum dengan berat dan adil, dalam artian tidak pilih kasih. Hal tersebut semata-mata untuk membuat jera para pelanggar dan menakut-nakuti pemain maupun official lain agar tidak melakukan tindakan serupa. Sungguh memalukan jika persepakbolaan Indonesia dikenal tidak sportif (kalau kalah ya harus legowo, jangan mengamuk!), penuh kekerasan (jangan suka mukul pemain lawan, apalagi sampe klenger), dan kesan-kesan negatif lainnya. Tentunya kita semua ingin agar persepakbolaan di tanah air juga bisa seperti persepakbolaan di Eropa.
Kemudian permasalahan pengurus PSSI yang tengah diterpa “ancaman” dari FIFA untuk segera menyelesaikan anggaran dasar barunya hingga 24 Desember 2008. PSSI harus menyesuaikan anggaran dasar tersebut dengan statuta milik FIFA. Hal ini bukan kali pertama bagi PSSI mendapat ultimatum dari FIFA. Sebenarnya sejak awal Februari 2008 lalu FIFA telah memperingatkan PSSI untuk segera mengubah Pedoman Dasar PSSI yang mengacu pada standar statuta FIFA dalam kurun waktu tiga bulan. Sedangkan untuk pemilihan ketua umum, FIFA juga menetapkan deadline pada 5 Agustus atau tiga bulan setelah pengesahan Pedoman Dasar.
Namun (pengurus) PSSI terkesan selalu mengulur waktu hingga muncul deadline terbaru 24 Desember 2008. Apa sih maunya para pengurus PSSI? Jangan korbankan nasib persepakbolaan Indonesia hanya untuk kepentingan individu/golongan kalian! Kalian telah terbukti tidak profesional mengurus persepakbolaan di tanah air, namun kalian tidak punya malu dengan bersikukuh menancapkan kekuasaan di tubuh PSSI. Persepakbolaan di Indonesia itu bukan milik kalian! Apa sich mau kalian?
Entah, bagaimana nasib persepakbolaan Indonesia ke depan… semoga masih ada harapan menjadi lebih baik.
Referensi:
- http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2008/11/15/223437/1037537/76/indonesia-ditumbangkan-myanmar-1-2
- gambar “grand royal challenge ‘08″ diambil dari situs pssi-footbal.com (http://www.pssi-football.com/id/image/img_news/5-11.jpg)




November 18th, 2008 at 6:18 am
yang penting Persebaya jadi juara mas..!! hehe..
(nyambung gak sih..??)
November 20th, 2008 at 11:00 am
Numpang moco
November 21st, 2008 at 6:55 pm
ayo, dukung persepakbolaan nasional …
November 24th, 2008 at 3:37 am
#green force: mari Bung!
May 29th, 2010 at 2:26 pm
Saya tegaskan sekali lagi pemain indonesia yang berumur 17 ke atas adalah produk gagal karena pembinaan yang tidak baik dan benar oleh klub ataupun timnas. jadi percuma menerapkan sistem pelatnas seperti apapun atau mengontrak pelatih sekaliber apapun. hasilnya tetap NOL BESAR!!! kita harus membuat generasi baru dari dasar dengan sistem pembinaan yang baik dan benar seperti pelatih berkualitas yang berlisensi internasional untuk segala umur, fasilitas latihan yang berkualitas pula, sistem gizi dan nutrisi yang teramati, dll.. mungkin itu satu-satunya cara untuk lebik baik. Hidup Sepakbola Indonesia.