Mengenal Diri Kita
Manusia, itulah wujud kita saat ini. Kita telah mengetahui banyak sekali kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh manusia, seperti akal, pikiran, perasaan, dan banyak lagi yang lainnya. Namun, sudahkah kita mengenal siapa kita sebenarnya? Ini adalah hal yang paling mendasar yang harus kita ketahui dalam kehidupan ini, agar kemudian kita mengetahui apa yang harus kita lakukan.
Setidaknya ada tiga referensi tentang siapa diri kita, yaitu: kita adalah makhluk Allah, kita adalah hamba Allah, dan kita adalah khalifah Allah. Sebagai makhluk (yang diciptakan), maka tentunya ada yang dinamakan dengan khaliq (pencipta). Sebagai seorang muslim, kita meyakini bahwa Allah-lah khaliq kita. Sehingga kita menerima banyak konsekuensi atas semua itu, diantaranya: tunduk dan patuh atas segala perintah Allah, menjauhi segala yang dilarang oleh Allah.
Sebagai hamba, maka tentunya ada yang dinamakan dengan tuan/majikan. Dan sebagai seorang muslim, tuan kita adalah Allah. Konsekuensi yang harus kita jalankan adalah beribadah kepadanya sebagai wujud penghambaan kita kepada tuan kita. Kita tidak layak untuk membantahnya, kita tidak layak pula untuk berpaling darinya.
Sebagai khalifah, kita bertanggung jawab atas apa-apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita, yaitu bumi. Di bumi inilah kita berada, dan kita diperbolehkan oleh Allah untuk mengambil manfaat darinya, mengolah apa-apa yang ada di dalamnya, karena memang itu semua adalah untuk kita. Namun tetap ada pertanggungjawaban kepada Allah, karena sebenarnya bumi yang kita pijak saat ini adalah milik Allah.
Manusia adalah makhluk Allah yang terdiri dari ruh dan tanah yang kemudian berkembang menjadi makhluk yang sempurna secara fisik bila dibandingkan dengan makhluk lainnya. Bakhkan Allah menyebutkan bahwa penciptaan manusia dalam keadaan yang sebaik-baiknya (QS As-Sajdah ayat 7). Apabila manusia menyadari kelebihan ini, tentunya manusia akan bertingkah laku lebih baik dibandingkan dengan binatang.
Manusia diciptakan oleh Allah dilengkapi dengan potensi hati, akal dan jasad. Dengan hati, manusia berniat. Dengan akal manusia berilmu. Dan dengan jasad, manusia beramal. Ketiga potensi tersebut dimiliki oleh semua manusia, hanya saja tidak semua manusia mampu mengoptimalkan ketiga potensi tadi. Orang yang berimana seharusnya mampu mengoptimalkan potensi itu karena merupakan perintah dan kewajiban bagi seorang muslim. Potensi akal dapat dikembangkan kepada ilmu pengetahuan dan teknologi sedangkan potensi hati dapat menjadikan hati lebih tenang dan tentram. Potensi jasad dapat dikembangkan kepada keperluan manusia seperti aspek kesehatan dan kesejahteraan.
Potensi yang diberikan kepada manusia akan berjalan dan tersalurkan dengan baik apabila manusia mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Segala potensi yang ada pada manusia diperuntukkan dan disediakan oleh Allah agar manusia dapat menjalankan ibadah kepada-Nya dan menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi.
Dengan potensi akal, manusia mampu melakukan berbagai keahlian yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Kemampuan akal manusia dalam memperoleh ilmu dan pengetahuan tidaklah diragukan. Kemampuan ini tidak dimiliki oleh makhluk yang lain. Sangat merugi apabila potensi manusia tidak dikembangkan sebagaimana mestinya. Allah menghendaki agar setiap tindakan dan tingkah laku kita berdasarkan ilmu. Setipa perbuatan yang tidak berdasarkan ilmu akan membuat kita menjadi orang yang merugi di sisi Allah. Dan apabila kita tidak menggunakan akal untuk mencari ilmu maka kta akan menjadi penghuni neraka (QS Al Israa’ ayat 36).
Dengan potensi jasad, manusia dapat beramal. Jasad diberikan oleh Allah kepada manusia untuk melengkapi kesempurnaan Islamnya manusia. Potensi yang Allah berikan ini harus disyukuri dengan cara memelihara dan menjaganya sehingga kita dapat beramal secara optimal. Jasad yang tidak sehat akan mengganggu segala aktifitas manusia.
Dengan potensi-potensi yang dimiliki, manusia dikehendaki untuk mampu menjalankan misi sebagai khalifah yang telah diamanahkan oleh Allah walaupun makhluk lain enggan menerima amanah tersebut. Mukmin yang baik adalah mukmin yang mampu menjalankan amanah yang diberikan kepadanya.
Allah telah memberikan amanah khalifah kepada langit, bumi, dan gunung, tetapi mereka tidak menerimanya, sedangkan manusia mau menerimanya (QS Al Ahzab ayat 72). Karenanya manusia diberi amanah untuk melaksanakan tugas ibadah seperti yang disebutkan dalam Al Quran (QS Adz-Dzaariyaat ayat 56). Wallahu a’lam.
*) sebelumnya artikel ini pernah saya publikasikan disini.




Leave a Reply