Buka Buku Saat Ujian: Legal atau Ilegal ?
Pagi ini saya mendapati berita yang cukup menarik, di website mediaindonesia.com, yaitu tentang kebijakan baru dari pemerintah Australia dalam dunia pendidikan: Buka Buku Saat Ujian. Wow … sepertinya hal ini jadi sesuatu yang seringkali dianggap “ilegal” di Indonesia, hanya saat-saat tertentu saja hal ini bersifat legal karena Bapak/Ibu Guru memang membolehkan. Dan seringkali, karena aktifitas membuka buku saat ujian dilarang, maka beberapa siswapun melakukannya secara ilegal.
Pemerintah Australia melakukan terobosan baru dalam sistem pendidikan. Para siswa sekolah menengah diperbolehkan membuka buku saat mengerjakan ujian. Selain membuka buku, para siswa juga diperbolehkan menghubungi kawannya melalui telepon, menggunakan internet, dan mendengarkan mp3 selama ujian berlangsung. (http://mediaindonesia.com – kamis,21 Agustus 2008)
Namun ternyata, aktifitas ilegal bukan hanya dilakukan oleh siswa (maupun mahasiswa). Gak percaya? Saya coba mencari-cari referensi, akhirnya dapet ini: Guru Mencontek Saat Tes Kepala Sekolah. Terlihat jelas sekali deh aktifitas ilegal, karena di-shoot sama kamera.
Menyontek ketika ulangan atau ujian merupakan kebiasaan buruk yang hampir sebagian besar dilakukan oleh (oknum) siswa dan mahasiswa. Banyak hal/ alasan kenapa mereka menyontek. Tapi sebab utama biasanya karena dia tidak belajar sehingga tidak siap menghadapi ulangan atau ujian. Alasan lain karena inginnya enak aja, tanpa usaha keras tapi mendapat hasil yang bagus.
Hal semacam ini tentu bukanlah hal yang baik. Mungkin saja mereka akan mendapatkan nilai yang lebih baik dengan menyontek, tapi jelas hanyalah sebuah “kebaikan yang semu”. Berdasar pengalaman, menurut pengamatan saya, salah satu penyebab seseorang menyontek adalah karena lingkungan sekitarnya, ia melihat terlebih dahulu lingkungan di sekitarnya melakukan aktifitas percontekan, kemudian “mencoba” hasil penglihatannya. Mendapati hasil yang lebih baik tanpa usaha yang terlalu keras, sepertinya menarik untuk diteruskan. he..he..he..
Namun ketahuilah bahwa bukankah menyontek sama dengan berbohong? Berbohong pada diri sendiri, guru, dosen, teman bahkan orang tua. Karena nilai ujian dari hasil menyontek adalah bukan hasil kerja kerasnya sendiri. Ada satu hal lagi yang mesti kita ingat, walaupun ketika menyontek tidak ada yang tahu, tapi Allah Yang Maha Mengetahui akan melihat setiap apa yang kita perbuat, apapun perbuatan kita, yang baik maupun yang buruk. Dan semuanya itu akan dicatat oleh dua malaikat yang senantiasa mengikuti kita untuk nantinya dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi, Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al-Hujuraat (49):18).
Bagaimana dengan saya?
Pengalaman pribadi saya, pertama kali melakukan aktifitas ilegal tersebut adalah ketika di bangku SMP (dulu namanya SLTP – saya bersekolah di SMPN 1 Surabaya), sebuah sekolah yang menurut banyak orang adalah sekolah terbaik di kota Surabaya, tapi saya kecewa pernah berada di sana. Banyak kebohongan terjadi di sana, hingga sayapun sempat menjadi “korban” tuduhan yang saya sendiri tidak melakukan. Namun di sana saya mendapatkan seorang sahabat, namanya Hanang, teman satu kelas mulai kelas 1 SMP hingga 3 SMA. Dan sampai sekarang kami masih bersahabat, meski kuliahnya beda, saya di SI ITS sedangkan dia di FK Unair.
Ceritanya, dulu ketika kelas 1 saya berada di kelas unggulan. Ketika ujian catur wulan tradisinya adalah duduk bersebelahan dengan siswa kelas 2 yang sama-sama unggulan juga. Tapi, ternyata kekaguman saya pada teman-teman satu kelas dan juga siswa kelas 2 unggulan sirna ketika mendapati sebagian besar para penghuninya ternyata saling menyontek. Malah saya sempat “diketawai” ketika tidak menyontek. [kurang ajar ....] Terlebih lagi, hasil ujian saya kala itu kurang bagus, kalah sama teman sekelas yang menyontek saat ujian. Akhirnya di ujian berikutnya, saya langsung melakukan tindakan memalukan tersebut dan hasilnya cukup memuaskan. he..h.e..he…
Kala itu, saya ndak pernah sekalipun ketahuan menyontek oleh Bapak/Ibu Guru karena memang saya saat itu termasuk “ahli” he..he..he.. ya karena saya “berguru” pada teman yang mahir menyontek dan memiliki banyak teknik yang inovatif. Sayapun sempat “melahirkan” teknik-teknik baru yang sangat berhasil. he..he..he…
Aktifitas itu berlanjut sampai saya kelas 3. Namun dalam pertengahan perjalanan selama kelas 3, akhirnya saya berhenti dari aktifitas tersebut. Saya merasakan ketidakpuasan dan ketidaknyamanan dalam diri ini. Terlebih, sebenarnya saya cukup menonjol dalam pelajaran fisika dan matematika diantara teman-teman yang lain. Bakat fisika nampak ketika kelas 2, saat itu guru fisikanya memang “profesional”, beda dengan guru yang lain, kalau ndak salah namanya Pak Budi. Saya mendapatkan apresiasi yang baik selama di kelas. Sedangkan bakat matematika nampak ketika kelas 3, saat itu saya les di SSC daerah kacapiring, kalau gak salah nama tentornya waktu itu Mbak Dian.
Saya mulai menikmati hasil tidak menyontek lagi ketika SMU (sekarang SMA – saya bersekolah di SMUN 2 Surabaya). Meski saya lulus SMP dengan nilai yang tidak begitu baik namun ketika SMU saya selalu mendapat peringkat paralel di skeolah, dan akhirnya ketika kelas 3 masuk kelas unggulan. Dan ketika SPMB diterima di pilihan pertama (Sistem Informasi ITS Surabaya). Saat kuliah juga sempat jadi Mawapres. he..he..he… Kejujuran insya Allah adalah lebih baik daripada tidak jujur, karena keduanya akan memberikan efek domino di kemudian hari.
Kalau sekarang saya masih banting tulang mengembangkan perusahaan untuk mewujudkan mimpi besar di masa depan. Bermimpi masuk jajaran top 100 billionaires dunia… he..he..he… Amin




August 21st, 2008 at 1:53 pm
wah pinter banget…
saya sejak dulu dilatih utk tidak melakukan tindakan2 itu lho
August 23rd, 2008 at 5:21 am
@arul: biasa aja dech Rul